Cacing bagi sebagian orang adalah binatang menjijikkan. Namun, tidak bagi Deden Sabarudin. Bagi Deden, yang mempunyai pusat budidaya cacing di Bandung, cacing merah, merupakan bisnis yang menguntungkan.
Kandungan proteinnya yang sangat tinggi, bermanfaat untuk bahan dasar obat, kosmetik, pakan ternak, sampai ke pupuk organik.
Permintaan cacing tanah dari berbagai daerah, saat ini cukup tinggi. Deden dan peternak lainnya, dalam sepekan bisa menghasilkan tiga setengah ton cacing merah hidup.
Permintaan cacing merah hidup dari berbagai daerah, membuat, proses pengemasannya harus dipertimbangkan sedemikian rupa. Kulit kelapa yang sudah dihaluskan, merupakan media hidup cacing merah.
Cacing merah dengan medianya itu kemudian dibungkus dengan kain halus agar udara bias masuk ke dalam selama pengiriman. Satu kilogram cacing merah hidup dijual seharga Rp 50 ribu, belum termasuk ongkos kirim.
Tingginya permintaan dan mahalnya harga, sebanding dengan biaya yang dikeluarkan selama pengembangbiakan.
Tempat pembesaran, harus dipilih yang menjadikan hewan ini tumbuh berkembang dengan baik. Selain itu, tempat pembesaran cacing juga tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung.
Pakan cacing selama pengembangbiakan, biasanya digunakan bubur campuran ampas singkong dan kotoran sapi. Pakan tersebut diberikan sebanyak dua hari sekali.
Selain menjual dalam kondisi hidup, para peternak di Parongpong, Bandung, menjadikan cacing ini sebagai pupuk organik berbentuk tepung dan cair.
Tingginya permintaan membuat peternak cacing kini berkembang luas di Parongpong. Setidaknya ada sekitar 500 petani ada di sekitar daerah tersebut.
Bagaimana kisah pengembangan budidaya cacing merah ini? Bagaimana proses pengolahan untuk menjadi berbagai produk?***
Tayang Sabtu, 10 September 2011, pukul 11:00 WIB.
Untuk menguraikan limbah organik, cacing apakah yang paling tepat untuk melakukannya?
semua jenis cacing bagus karena pada dasarnya cacing adalah hewan pengurai pak.